“Apa itu Aikido ?”
Pertanyaan itu sering dilontarkan oleh orang awam, mengingat Aikido tidak sepopuler bela diri Jepang lainnya seperti Karate dan Judo, tetapi sayang sekali tidak seorangpun yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan tersebut, bahkan para praktisi Aikido yang paling senior.
Jika dipandang oleh orang awam, Aikido akan dianggap sebagai suatu jenis bela diri yang memanfaatkan tenaga lawan untuk melemahkan serangannya. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, karena Aikido tidak semata-mata untuk berkelahi.
Dari terminologinya, secara sederhana bisa di jabarkan
AI, penyelarasan, integrasi, atau harmony.
KI berarti pusat energy hidup, spirit,
DO yang bermakna jalan.
Aikido adalah jalan untuk membentuk kesatuan harmoni antara fisik, rohani dan pikiran.
Pola dasar gerakan Aikido adalah sirkular. Belajar Aikido adalah belajar tentang keseimbangan, mempelajarai gerakan energi lawan, lalu membiarkan energi itu mengalir. Praktisi Aikido hanya menggunakan badan untuk proses itu, tidak membendungnya. Semakin besar energi serangan, semakin besar pula counter serangan itu akan berbalik pada penyerangnya. Energi penyerang yang mengalir dalam bentuk apapun akan menimbulkan satu titik ketidak seimbangan. Ketidak seimbangan itu dirubah pada satu titik konvergensi.
Sebagai ilmu beladiri, Aikido adalah jenis beladiri untuk perkelahian cepat dan jarak dekat (close combat) Teknik-teknik aikido sedikit banyak dipengaruhi oleh :
Teknik bantingan Judo Kodokan Jigoro Kano,
Teknik kuncian Jujutsu gaya Sokaku Takeda (Bapak Jujutsu)
Kenjutsu (Teknik pedang)
Yarijutsu (Straight spear, toya berpedang).
Morihei Ueshiba, sebagai Bapak Aikido (1883-1969) lebih menekankan Aikido sebagai strategi beerkelahi daripada teknik berkelahi.
Beladiri dari negara matahari terbit ini berakar pada tradisi samurai, oleh sebab itu dalam latihan selalu dilakukan dalam posisi seiza (duduk bersimpuh dengan kedua kaki dilipat kebelakang) selagi siswa menerima pelajaran, cara hormat, maupun saat siswa masuk dalam tatami di dojo.
Ada 4 dasar pola latihan.
Tachi waza (teknik berdiri melawan berdiri)
Suwari waza (duduk melawan duduk),
Hanmi handachi (duduk melawan berdiri)
Kaeshi waza (melakukan teknik dengan membuka serangan sebagai pancingan).
Pada umumnya Aikido tidak menggunakan tendangan kaki, tapi dalam hal-hal yang sangat khusus, teknik kaki (ashi waza) juga diajarkan. Inipun dengan catatan pada Aikidoka tingkat Dan keatas. Di Indonesia, ashi waza nyaris tidak diadakan.
Aikido cocok untuk perkelahian ruangan sempit maupun melawan beberapa penyerang (multiple attacker). Dapat dipelajari pria dan wanita segala umur. Untuk anak-anak minimal 10 th.
Teknik-teknik (waza) Aikido tergolong sederhana. Ada 2 hal pokok waza, yakni
Nage waza (melempar/membanting/proyeksi)
Kihon waza (termasuk teknik kuncian/immobilisasi)
Dalam pelatihan, Aikido lebih mengutamakan keadaan badan yang rileks, mengendur. Dalam pengertian, rileks sangat berbeda dengan lembek. Rileks, adalah energi yang terpusat dan terkontrol. Jadi, mempelajari Aikido adalah membiasakan kondisi badan selalu dalam keadaan rileks. Badan beserta otot- ototnya yang sudah terkondisi dalam keadaan mengendur rileks ini akan terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi seperti ini akan menghasilkan suasana psikologi yang positif. Pikiran dan badan akan terbiasa dalam keadaan rileks dan sadar. Seperti anda yang sedang berada dikursi dokter gigi dan dokter gigi anda berkata, rileks saja ! kemudian anda mengendurkan otot-otot badan secara otomatis. Dengan badan beserta otot- ototnya yang mengendur secara terkontrol akan menimbulkan rasa nyaman, menurunkan temperatur emosi. Dalam Yoga, hypnotheraphy, bahkan meditasi sekalipun, selalu ditekankan kondisi rileks total untuk mencapai keaadaan alpha.